Busway is My Way, Asalkan….*

Oleh Ariyanto

Potret buruk. Barangkali, itulah jawaban kita ketika ditanya bagaimana kondisi transportasi di Jakarta. Jawaban tersebut tidak salah karena masih tingginya angka kecelakaan, kemacetan yang kian parah, serta kurang nyaman dan amannya transportasi masal di ibu kota.
Secara umum, kondisi fisik transportasi di DKI bisa dibilang kurang memadai. Masih ada kursi yang berlubang, kaca pecah, bodi keropos, angkutannya tidak ramah lingkungan, penumpangnya merokok, hingga sopir yang seringkali ugal-ugalan karena harus memburu setoran. Kondisi itu masih diperparah dengan banyaknya pencopet, pengamen, dan penumpang yang melebihi kapasitas.
Ulah para calo dan preman yang bergentayangan di terminal juga kerap meresahkan karena kerap memaksa penumpang. Parahnya lagi, mereka kebingungan harus mengadukan hal itu kepada siapa. Selama ini, dalam tataran praktis belum ada mekanisme pengaduan yang jelas terhadap ketidaknyamanan selama perjalanan. Masalah kelayakan bus kota memang menjadi salah satu penyebab buruknya sistem penataan angkutan umum secara keseluruhan.
Namun, pemerintah tidak menutup mata dan telinga. Perlahan tapi pasti, wajah transportasi di DKI mulai berubah. Dengan konsep moda transportasi makro, yaitu transportasi berbasis jalan raya, berbasis rel, dan berbasis air, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso berupaya mereformasi angkutan itu. Salah satu yang bisa dinikmati adalah busway koridor I sampai III dan koridor IV sampai VII masih dalam pengerjaan. Rencananya, DKI akan dilewati lima belas koridor busway. Secara umum, tidak didapati hal-hal buruk pada busway. Kondisi fisik bagus karena memang masih baru, sopirnya pilihan karena harus melewati berbagai tes, gaji layak dan tidak menggunakan sistem setoran sehingga tidak perlu berebut penumpang, ber-AC, bebas pengamen, pedagang asongan, serta lebih cepat sampai di tujuan.
Pada awal peluncuran busway memang banyak mendapat kecaman dari berbagai pihak. Bukan karena transportasi masal itu cepat, aman, dan nyaman, tapi lebih kepada semakin macetnya arus lalu lintas setelah bus tersebut beroperasi. Target pengguna mobil pribadi akan beralih ke busway juga dianggap mustahil. Tapi, seiring berjalannya waktu, data yang dikeluarkan PT Transjakarta menunjukkan bahwa terjadi peningkatan penumpang yang signifikan dari tahun ke tahun.
Tidak bisa dimungkiri bahwa tiga koridor yang sekarang beroperasi tidak terlepas dari kekurangan. Namanya saja baru memulai sesuatu yang baik. Tapi, apa salahnya jika kita belajar dari kekurangan untuk tampil lebih baik lagi. Busway bisa disebut transportasi revolusioner dan mampu mengubah potret buruk transportasi di DKI yang selama ini semrawut. Busway juga dapat menjadi transportasi alternatif dan digemari masyarakat pengguna jasa transportasi. Tapi ada syaratnya, yaitu dapat memberikan jaminan keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan pelayanan yang memuaskan.

Mempertaruhkan Keselamatan

Mempertaruhkan keselamatan. Itu terkesan klise, tapi memang begitulah jika ingin mengubah wajah buruk transportasi di DKI. Berbicara keselamatan tentu terkait erat dengan persoalan makro seperti kebijakan, strategi dan program pemerintah, hingga partisipasi aktif dan perilaku sosial masyarakat. Beberapa hal berikut ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah dalam kaitannya dengan busway.
Pertama, masih ada sebagian sopir busway yang ugal-ugalan. Ada sebuah kasus, gara-gara ketidakdisiplinan sang sopir, seorang bayi dalam gendongan sang ibu terlepas. Karena itu, agar hal buruk tidak terjadi lagi di kemudian hari, perlu ada mekanisme pengaduan yang jelas seperti membuka hotline pengaduan. Masyarakat juga harus berperan aktif dengan mengadukan jika ada pelanggaran. Ini yang tampaknya belum dilakukan Pemprov DKI. Melalui pengaduan itu, mereka yang terbukti melanggar bisa diberikan peringatan keras. Jika sampai mengulangi lagi perbuatannya, terpaksa masa kerjanya harus dihentikan.
Kedua, soal pemakaian bahan bakar gas (BBG). Kebijakan ini harus didukung dan bisa dijadikan contoh bagi transportasi masal lain maupun kendaraan pribadi. Sebab, selain harganya relatif lebih murah, bahan bakar ini juga lebih ramah lingkungan. Namun, masyarakat harus diyakinkan bahwa BBG yang dipakai busway ini aman dan tidak akan meledak sebagaimana kasus taksi Kosti dan kejadian serupa lainnya. Bentuk konkretnya, tabung gas yang dipakai harus dirawat secara teratur dan diperiksa tim independen secara rutin. Hasilnya harus dipublikasikan agar penumpang tidak merasa khawatir lagi. Selanjutnya, pemerintah bekerja sama dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) terus membangun kekurangan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) dan segera melengkapi infrastrukturnya, termasuk komponen untuk keperluan pemasangan BBG.
Ketiga, rawannya kecelakaan di perlintasan busway. Untuk mengantisipasi hal itu perlu ada petugas khusus yang menjaga perlintasan atau jalur yang bersinggungan dengan busway. Petugas itu bisa dari Dinas Tramtib, Dinas Perhubungan, atau polisi lalu lintas. Penempatan petugas itu untuk menghindari agar pengendara tidak memasuki jalur busway yang selama ini menjadi pemandangan sehari-hari. Daerah yang sering diterobos adalah koridor III busway, terutama di depan patung Tugu Tani hingga perempatan Senen, Jakarta Pusat. Sebab, di daerah ini memang sangat macet dan hampir tidak ada petugas.
Selain menempatkan petugas di perlintasan, lokasi SPBU seharusnya tidak ditempatkan di kanan busway seperti di daerah Kwitang dan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Itu agar para pengendara tidak bersinggungan dengan jalur busway sekaligus menertibkan SPBU nakal di jalur hijau.
Keempat, senantiasa menjaga ’’kesehatan’’ busway agar tetap fit di dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Jangan sampai mogok di tengah perjalanan. Mulai kondisi mesin, rem, hingga ban harus dicek. Untuk mendapatkan hasil akurat tentu alat uji mekanis pada balai pengujian harus berfungsi baik agar bisa menguji secara tepat seperti rem, akurasi roda, serta sudut dan penerangan lampu, selain beban sumbu. Perlu ada sidak lebih sering dari tim Ditjen Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan, terhadap kelayakan busway. Supaya tidak terjadi penyimpangan seperti yang kini banyak terjadi, semua balai pengujian kendaraan, baik diselenggarakan pemerintah maupun swasta, harus diakreditasi lembaga profesional independen. Tapi kebijakan ini sebetulnya bukan khusus busway, tapi juga perlu diterapkan pada kendaraan lainnya.

Optimalkan Pelayanan dan Kenyamanan

Mempertaruhkan keselamatan saja tidak cukup jika tak disertai pelayanan dan kenyamanan. Busway yang disebut-sebut sebagai contoh reformasi angkutan secara umum seringkali kurang nyaman lantaran terlalu banyak penumpang dan bahkan tidak sedikit yang berdiri layaknya bus umumnya. Lalu, apa bedanya dengan transportasi lainnya? Di sinilah persoalan itu muncul. Jika tidak ada yang berdiri, maka sekian banyak penumpang tidak akan terangkut, sementara jika dipaksakan akan mengganggu kenyamanan perjalanan.
Maka solusi yang tepat adalah menambah armada busway dan segera menyelesaikan kelima belas koridor, plus bus pengumpan senyaman busway, sehingga pengguna mobil pribadi mau beralih ke busway. Tapi tampaknya ini akan memberatkan karena penumpang harus turun dan oper lagi. Tidak efektif untuk masyarakat metropolitan yang super sibuk. Jadi, yang lebih efektif adalah meneruskan proyek busway hingga ke daerah-daerah penyangga ibu kota seperti Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang karena tidak sedikit mereka yang berdomisili di daerah itu mengais rezekinya di Jakarta. Dengan cara ini, mereka bisa naik busway sampai di tempat kerja dari dekat tempat tinggalnya. Asyik sekali. Cepat, aman, dan nyaman.
Sutiyoso sebetulnya telah menggulirkan wacana itu, seiring konsep megapolitan yang dilontarkannya. Namun sayang, ada Bupati dan Wali kota yang belum-belum sudah curiga bahwa konsep itu syarat muatan politis. Orang nomor satu di DKI yang tidak lama lagi masa jabatannya akan habis ini dituding ingin menjadi Gubernur megapolitan, jabatan setingkat menteri. Mestinya terkait ruwetnya transportasi ini, mereka harus mempunyai visi dan misi yang sama dengan Gubernur DKI Jakarta bahwa hal itu bertujuan mengatasi persoalan kemacetan secara bersama-sama dan mempercantik wajah transportasi di ibu kota.
Untuk lebih efisien, barangkali armada buswaynya bisa dibuat bertingkat seperti di luar negeri atau menggunakan bus gandeng. Tapi masing-masing pilihan ini punya kelebihan dan kekurangan. Pengoperasian bus gandeng akan mengalami banyak kendala karena di kondisi jalan di DKI banyak tikungan, menggunakan separator lagi. Begitu pula dengan busway bertingkat. Beberapa jembatan kereta api akan menjadi penghalangnya, tapi ini bisa disiasati dengan cara membuat underpass. Atau, kedua-duanya bisa dikombinasikan mengikuti kondisi jalan di Jakarta. Untuk koridor yang tidak banyak tikungan menggunakan bus gandeng, sedangkan yang tidak melewati jembatan kereta api memakai bus bertingkat. Terserah saja.
Peningkatan kenyamanan selanjutnya adalah dengan memperbaiki jalur busway yang rusak. Ini dimaksudkan agar kejadian seperti terperosoknya keempat roda busway di Halte Glodok, Jakarta Barat, tidak terulang kembali. Karena busway termasuk angkutan masal yang cepat, nyaman, dan aman, maka jalur busway sendiri harus benar-benar mulus karena kecepatannya cukup tinggi. Walaupun jalan umum juga harus mulus, tapi ini harus diprioritaskan agar orang mau meninggalkan mobil pribadinya dan beralih ke busway sesuai konsep awal busway untuk mengurangi kemacetan dan polusi.
Selain memperbaiki kondisi jalan, pengamanan jalur dan busway dari ancaman anarkisme yang seringkali mewarnai setiap kali ada demonstrasi juga perlu dilakukan. Sebagaimana diketahui, demonstrasi di DKI ini seolah sudah menjadi lagu wajib.
Tidak jarang aksi itu berbuntut pada perusakan busway dan pemblokadean jalur busway seperti aksi besar-besaran buruh pada Hari Buruh. Begitu pula ketika unjuk rasa ribuan karyawan PPD yang menuntut hak agar gajinya selama delapan bulan segera dicairkan. Mereka memarkirkan puluhan busnya di jalur busway. Akibatnya, busway terpaksa mencari jalur alternatif yang membuat waktu perjalanan lebih lama sekaligus membuat penumpang di dalam dicekam rasa takut. Mestinya kejadian itu tidak perlu terulang kembali. Kasus ini tidak bisa hanya menjadi tugas dari Dinas Tramtib atau Departemen Perhubungan, tapi juga petugas kepolisian. Bahkan, bila perlu menerjunkan TNI untuk mengamankan jalur busway tersebut dan keamanan DKI secara keseluruhan.
Jika semua hal di atas terpenuhi, busway tentu akan menjadi transportasi masal alternatif dan sangat digemari masyarakat. Kondisi ini sekaligus dapat memperbaiki potret buram transportasi DKI selama ini. Namun untuk membenahi kondisi transportasi di DKI yang secara umum masih buruk tidak cukup hanya dengan busway, tapi juga mengintegrasikannya dengan moda transportasi lainnya, yaitu transportasi berbasis rel seperti monorel, subway, double-double track (DDT), menghidupkan rel kereta api yang mati dan transportasi berbasis sungai.
Pemerintah rupanya sangat menyadari pentingnya hal tersebut. Karena itu, megraproyek monorel sekarang ini tengah dikebut siang-malam, jaminan risiko juga selesai dibahas sebagai syarat cairnya bantuan dari Dubai Islamic Bank (DIB). Begitu pula dengan double-double track (DDT). Meski proyek ini mendapat gugatan dari sebagian warga korban DDT, Departemen Perhubungan tetap jalan terus menertibkan daerah yang akan dilalui proyek tersebut. Apa yang dilakukan Dephub sudah sangat tepat dan manusiawi. Tepat karena itu bertujuan untuk mengurai kemacetan dan bangunan di sepanjang jalur tersebut adalah tanah milik PTKA dan sangat manusiawi karena Dephub tetap memberikan ganti rugi.
Jika semua proyek pola transportasi makro itu selesai, Jakarta akan menjadi kota megapolitan, kota modern dan sejajar dengan kota-kota di negara-negara maju. Namun, derasnya arus urbanisasi juga harus dicarikan jalan keluarnya. Sebab, pembangunan sebaik apa pun jika perpindahan penduduk desa ke kota ini tidak terbendung, masalah sosial ekonomi akan terus muncul. Jakarta sudah kelebihan beban. Maka solusi terbaiknya adalah memeratakan pembangunan ke daerah-daerah dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Singkatnya, menjadikan daerah-daerah lain layaknya Jakarta.

*Terbit di Indo Pos (22 September)

~ by ariyanto on 2 December 2006.

One Response to “Busway is My Way, Asalkan….*”

  1. Pak saya minta dikirmi sistem informasi transportasi darat mengenai busway dan kereta api serta peta dan jadwal tiba/berangkat-nya lewat e-Mail saya djunsan2007@gmail.com saya bernama Djunaidy Santoso dosen di suatu perguruan tinggi di jakarta. Banyak terima kasih atas perhatiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: