Kekerasan Terselubung Intai Anak*

Oleh Ariyanto

Sebagian kita yang masih mempunyai naluri kemanusiaan barangkali langsung terenyuh ketika mendengar ada anak menjadi korban kekerasan orangtuanya. Seorang anak disetrika di Jakarta, anak dicekik ibunya di Serpong, anak dibakar hingga tewas oleh orangtuanya yang mengaku mengalami tekanan batin di Tangerang, dan berbagai tindakan kejam lainnya yang belum banyak terungkap. Kita tidak habis pikir, mengapa orangtua yang mestinya memberikan perlindungan justru menjadi pelaku kekerasan. Kenapa keluarga yang seharusnya memberikan rasa aman, malah membuat anak dicekam rasa ketakutan.
Beberapa kejadian itu hanyalah segelintir kasus yang diketahui dan dilaporkan. Masih banyak kekerasan lainnya yang mewarnai kehidupan sehari-hari mereka. Mulai dipukul, dijambak, ditendang, diinjak, dicubit, dicakar, ditempel besi panas, dipukul dengan karet timba, dijewer, dicekik, dan bahkan tidak sedikit yang dibunuh.
Anak perempuan lebih sadis lagi. Mereka mengalami kekerasan dan eksploitasi seksual. Diperkosa, dipaksa melakukan oral seks, dijual pada mucikari, hingga dipaksa menjadi pelacur. Semua peristiwa itu tidak pernah luput dari pemberitaan. Bahkan, media belakangan ini dihebohkan dengan maraknya liputan berbagai kekerasan terhadap anak.
Dalam berbagai berita dikesankan bahwa seolah-olah tindak kejahatan seperti itu meningkat drastis akhir-akhir ini. Memang kenyataannya seperti itu. Menurut Komnas Perlindungan Anak, selama 2005 terjadi 736 kasus. Ini hampir dua kali lipat dibandingkan 2004. Kasus-kasus itu berbentuk kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Sedangkan sepanjang 2006 terjadi 604 kali penganiayaan yang telah dilaporkan. Namun kasus-kasus ini hanyalah ’’puncak gunung es’’ karena kekerasan terhadap anak umumnya tertutup. Dalam segala bentuk dan kualitasnya, kekerasan yang menimpa kepada generasi penerus kita sebenarnya telah lama terjadi di komunitas kita.
Tidak ada yang salah dengan gencarnya pemberitaan mengenai hal itu. Mungkin itu bentuk kepedulian dan semangat dari insan media untuk mengungkap kejahatan yang dialami para calon pemimpin masa depan tersebut. Namun, hendaknya media, masyarakat, maupun pemerintah jangan hanya berhenti pada pengungkapan kekerasan fisik, tapi juga kekerasan terselubung lainnya yang justru lebih berbahaya. Sebab, selain membawa dampak jangka panjang terhadap kondisi kejiwaan si anak, kekerasan terselubung ini sebenarnya akar dari segala fenomena itu. Setidaknya ada tiga bentuk kekerasan terselubung. Yaitu, kekerasan psikologis, kekerasan epistemis, dan kekerasan untuk kepentingan ekonomi. Namun sebelum diuraikan model-model kekerasan itu, perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan (UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1).
Pertama, kekerasan psikologis. Kekerasan jenis ini tidak terlihat, tapi dapat membuat si anak kehilangan kepercayaan diri, depresi, minder, dan tidak sedikit yang kemudian bunuh diri. Contohnya adalah memaki anak, sumpah serapah, pembungkaman, dan melarang mengemukakan pikiran atau pendapatnya. Kita seringkali mendengar kalau orangtua marah, biasanya nama-nama binatang yang ada di Taman Margasatwa Ragunan terlontar semua kepada si anak.
Termasuk kekerasan juga ketika orangtua memaksakan kepada anaknya agar memilih jurusan atau sekolah tertentu. Mestinya anak dimintai pendapat terkait hal itu. Sekelas nabi Ibrahim saja tidak serta merta memaksakan keinginannya, melainkan meminta pendapat terlebih dulu kepada anaknya. Fandzur madza taro. (QS Ash-Shaffat: 102).
Infotainmen yang selama ini getol menayangkan kasus perceraian artis yang disertai pertengkaran soal rebutan hak asuh bisa membuat anak minder, dan malu kepada teman-teman lainnya. Kekerasan psikologsi terutama dialami anak ketika melihat orangtuanya cekcok, apalagi sampai diekspos media. Salah satunya adalah pemberitaan kasus ’’rebutan’’ anak antara Tamara dan Rafli hingga mengundang simpatik Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi turun tangan. Mestinya yang diangkat media adalah pemberitaan yang pro anak, yaitu menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Bukan memberitakan masalah kawin cerai yang merupakan privasi seseorang, bukan kepentingan publik, apalagi sampai berdampak negatif kepada anak.
Kedua, kekerasan epistemis. Yang dimaksud dengan pengertian ini adalah kekerasan yang mendapat legitimasi dari teks-teks suci keagamaan atau pengetahuan tertentu dan pembudayaan. Di dalam hadis, misalnya, disebutkan bahwa orangtua boleh memukul anak jika sampai umur sepuluh tahun si anak belum mau menjalankan salat.
Jika ini dipahami secara skripturalistik, mengabaikan konteks dan aspek filosofisnya, maka seolah-olah kekerasan mendapatkan pengesahan. Contoh lainnya adalah pembagian harta waris anak laki-laki dapat dua, sedangkan anak perempuan dapat satu dan laki-laki adalah pemimpin atas kaum wanita karena telah diberikan beberapa kelebihan. Ini juga dapat dijadikan pembenar orangtua melakukan diskriminasi terhadap anak perempuan. Keseluruhan pola berpikir dengan sistem wacana yang digunakan seperti ini harus didekonstruksi.
Kondisi semacam ini diperparah lagi dengan media kita yang menayangkan berbagai tindak kekerasan, baik melalui berita maupun sinetron dan film. Dari kecil kita disuguhi semacam itu sehingga nilai-nilai kekerasan itu menjadi terinternalisasi dan kekerasan kemudian menjadi banalitas, dianggap lumrah.
Ketiga, kekerasan untuk kepentingan ekonomi. Kekerasan ini memanfaatkan potensi si anak untuk keuntungan dan kepentingan pribadi atau orang lain. Atas pemanfaatan tersebut orang yang memanfaatkan potensi anak mendapatkan keuntungan secara materi atau lainnya. Mereka disuruh bekerja menjadi pemulung, mengamen menjadi pekerja rumah tangga, dan mengemis. Itu semua biasanya terpaksa dilakukan karena kondisi ekonomi keluarga sangat terpuruk. Jika negara membiarkan hal ini, secara tidak langsung negara turut melakukan kekerasan.
Maka, untuk mengakhiri kekerasan terselubung ini, perlu dilakukan beberapa hal. Pertama, perlu penyuluhan kepada calon orangtua maupun orangtua supaya mereka tercerahkan. Kedua, melibatkan partisipasi tetangga, baik secara preventif maupun kuratif. Mereka bisa melakukan pendekatan dari hati ke hati kepada keluarga yang melakukan tindak kekerasan. Jika tidak berhasil, mereka bisa melaporkan hal itu ke Komisi Perlindungan Anak. Ketiga, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dan UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) harus ditegakkan, jangan sampai jadi macan ompong. Keempat, pemerintah sendiri harus membuat sebuah sistem deteksi dini, rujukan, penanganan terpadu untuk menanggapi masalah kekerasaan. Dengan sistem ini, masyarakat tahu apa yang mereka harus perbuat dan tidak ragu-ragu untuk mengambil tindakan ketika menyaksikan peristiwa kekerasaan terhadap anak.

*Terbit di Indo Pos (12 Oktober)

~ by ariyanto on 1 December 2006.

4 Responses to “Kekerasan Terselubung Intai Anak*”

  1. kekerasan terhadap anak harusnya tidak boleh terjadi, karena anak merupakan karunia yang diberikan oleh tuhan kepada kita, seharusnya kita menjaganya karena anak juga merupakan titipan dari tuhan.maka dari itu klo kita punya anak nanti jgn lah meniru perbuatan orang2 biadab otreh!!!!!

  2. selama ini, kekerasan sering terjadi faktor intern keluarga. terkadang masih banyak orang tua yang menganggap proses pendidikan terhadap anaknya merupakan pengajaran yang dianggap positif bagi anak. namun batasan proes pengajaran sering menutup maata terhadap Hak Azasi Anak. karena sampai saat ini masih banyak kekerasan terhadapa anak. contoh dari pengajaran dari ortu yang tidak memperhatikan aspek azasi manusia (anak), bila anak pulang terlamabat dari sekolah tanpa memberi kabar kepada orang tua, sebagai hukumannya anak itu dijewer,dicubit, disentil dsb. namun tindakan tersebut akan terus menjadi circle of the violence. seharusnya anak diberi pengertian yang dapat dicerna agar anak tersebut tidak mengulangi tindakan yang sama dilain waktu.
    perilaku anak akan berdampak negatif (melakukan tindakan kekerasan), apabila setiap kesalahan yang diperbuatnya terus diselesaikan dengan tindakan kekerasan. anak akan mencontoh perilaku kekerasan yang diterima atau merasa dendam. hal ini menjadi miris apabila kekerasan terus tertanam sejak dini didalam diri sang Mahkota bangsa. Bangsa ini tidak akan tumbuh sehat jika sejak dini anak terus diracuni perilaku kekerasaan yang terus menimpanya.

    Ingat, Anak adalah Mahkota bangsa.

  3. hai…
    mau nanya nich…
    punya cerita ga, mengenai orang tua yang melakukan kekerasan ternyata memang dahulunya dibesarkan dengan kekerasan pula. jadi seperti lingkaran setan. setelah dibesarkan dengan kekerasan pasti juga membesarkan dengan kekerasan juga bahkan mungkin lebih parah. kalau punya referenseinya kasih tau ya..
    thx you

  4. Hai…

    Thanks ya mau mengunjungi blog saya. Kalau saya paling banyak menemui orangtua yang ”ramah” terhadap anaknya walaupun dulunya dia pernah mendapatkan kekerasan baik fisik maupun psikis dari orangtuanya. Saya pernah menanyakan kepadanya, kenapa tidak melakukan kekerasan serupa kepada anak-anaknya? Dia menjawab singkat, ”Cukuplah saya yang merasakan kekerasan itu. Anak saya harus mendapatkan pendidikan lebih baik.” Ini artinya tergantung dari sejauh mana pemahaman orangtua terhadap pendidikan anak-anaknya ke depan. Kalaupun saya menjumpai orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anaknya, dalam hal ini fisik, itu lebih kepada pemahaman dia yang kurang terhadap pendidikan anak. Saya tidak tahu persis apakah dia dulunya juga pernah mengalami nasib serupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: