Jurnalis Futuristik ala Generasi Ketiga*

Oleh Ariyanto

Pada zaman dulu, kunci kemakmuran adalah berlimpahnya tenaga kerja dan kendali atas sumber daya alam. Tapi kini, perkembangan di bidang teknologi khususnya seluler dan telekomunikasi, telah memberi kemudahan dalam menyampaikan informasi atau mengalihkan data ke seluruh dunia. Dengan demikian, sumber penting bagi keuntungan kompetitif ekonomi maju bukan lagi bahan-bahan mentah atau pekerja, melainkan pengetahuan, yaitu informasi yang sudah dimaknai dan dipakai untuk sebuah kepentingan antara lain bidang jurnalistik dan manajemen.
Canggihnya teknologi 3G (Third Generation) yang belum lama ini diimplementasikan di Indonesia sebenarnya sangat membantu kerja jurnalistik. Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki, sang ’’wartawan’’ dapat memberikan informasi secara cepat, terpercaya, dan real time atas sebuah peristiwa. Wartawan yang dimaksud di sini bukan dalam pengertian sempit yaitu orang yang pekerjaannya memberikan informasi, tapi masyarakat luas yang berpartisipasi dalam menyampaikan sebuah berita. Namun sebelum membahas lebih jauh bagaimana aplikasi dalam bidang jurnalistik, terlebih dahulu perlu dijelaskan secara singkat apa Generasi Ketiga itu.
3G adalah suatu istilah untuk standar teknologi internasional. Tujuannya meningkatkan efisiensi dan memperbaiki kinerja jaringan seluler, sehingga aktivitas browsing di internet bisa lebih cepat, kualitas panggilan suara lebih mantap, dan kiriman data lebih kilat. Beberapa layanan yang bisa dimanfaatkan dalam kaitannya dengan kerja jurnalistik ini adalah video conferencing, media massa dan personal, posisi lokasi, multimedia messaging dan koneksi internet tinggi.
Video conferencing yaitu menghubungkan dua atau lebih pelanggan. Mereka dapat melihat dan mendengar secara real time. Melalui layanan itu, masyarakat yang kebetulan menyaksikan sebuah peristiwa seperti bom di JW Marriot atau di depan Kedubes Australia, dapat menghubungi kantor media atau bisa melakukan siaran langsung. Mereka juga bisa melaporkan kondisi arus lalu lintas maupun peristiwa kecelakaan. Partisipasi aktif yang sangat membantu pengendara lain itu sebenarnya sudah dilakukan beberapa media, khususnya radio. Namun, itu masih terbatas pada suara alias tanpa gambar yang menunjukkan kondisi riil arus lalu lintas.
Reportase melalui video conference ini kian prima dengan ditunjang oleh posisi lokasi penginformasi, aplikasi berbasis Peer-to-peer messaging seperti MMS (Multimedia Messaging Services), termasuk foto messaging dan video messaging, email, dan IM (Instant Messaging), serta fasilitas koneksi internet wireless data ke laptop, PDA dan handset pelanggan. MMS ini sangat membantu tugas fotografer. Memang hasilnya tidak sebagus bidikan pewarta foto, tapi setidaknya peristiwa penting besar kemungkinannya bisa teratasi. Hebat bukan? Jika hanya mengandalkan kepada para wartawan yang jumlahnya terbatas, sementara Jakarta teramat luas dan macet, kehilangan momen penting bisa terjadi. Peristiwa dahsyatnya tsunami di Aceh, gempa bumi di Daerah Istimewa Jogjakara dan sekitarnya serta tsunami di Pangandaran, atau informasi terkini perkembangan Gunung Merapi, tidak dapat diserahkan semata-mata kepada wartawan karena dia juga manusia. Dalam era ekonomi maju persaingan tidak dapat dilangsungkan dengan mengandalkan kekuatan tenaga, tapi diperlukan otak. Ekonomi baru menuntut ’’pekerja pengetahuan’’ yang menciptakan nilai, kreativitas, inovasi dan diferensiasi. Mungkinkah jurnalisme masa depan ini diwujudkan?
Jawabannya sangat bisa. Namun, operator seluler yang mempunyai lisensi 3G harus bekerja ekstrakeras karena masyarakat belum terbiasa dengan layanan yang relatif lebih rumit itu. Perlu diketahui, saat ini kebanyakan pengguna telepon seluler hanya menggunakan layanan suara dan layanan pesan singkat (SMS), jumlahnya bisa mencapai 99 persen. Jadi, aplikasi-aplikasi yang berbasiskan data atau multimedia tidak terlalu mudah untuk digunakan orang kebanyakan.
Oleh karena itu, para operator seluler yang telah meraih sertifikasi uji laik operasi (ULO) yaitu PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Telkomsel, dan Hutchison, harus gencar memperkenalkan teknologi 3G ini. Bukan hanya mengandalkan iklan di sejumlah media massa–karena di situ tidak ada pengarahan secara langsung dan komunikasi dua arah bagaimana menggunakan 3G–, tapi juga edukasi pasar. Bentuknya bisa dengan menggelar lomba aplikasi 3G dan pemenangnya dapat hadiah HP dengan teknologi tersebut.
Kendala aplikasi 3G di Indonesia lainnya adalah mahalnya tarif layanan dan tingginya harga handset. Pada awal promosi ini, seharusnya para operator berlomba-lomba menerapkan harga yang relatif lebih murah. Permasalahannya adalah beranikah mereka melakukan hal tersebut? Harga murah ini tampaknya mutlak dilakukan mengingat rata-rata pengeluaran seorang pelanggan seluler di Indonesia masih di bawah Rp 100 ribu. Memang fitur-fitur baru diharapkan dapat mendongkrak pendapatan operator. Namun diharapkan tidak terlalu berorientasi bisnis dulu pada periode awal layanan ini diperkenalkan ke masyarakat. Salah satu untuk menekan tarif ini adalah dengan memastikan tersedianya jumlah handset dan mengefisiensikan bid operator untuk jaringan 3G.
Permasalahan baru lainnya akan muncul ketika 3G ini dikaitkan dengan kerja jurnalistik. Pasalnya, pengguna 3G harus melaporkan kejadian jika diminta siaran live atau siaran tunda untuk media elektronik. Begitu pula ketika mereka harus memilih angle foto untuk dikirimkan ke media cetak. Maka, masing-masing perusahaan media perlu membentuk komunitas 3G dan memberikan pelatihan jurnalistik dasar untuk membantu pekerjaan wartawan dan fotografer. Melakukan hal itu tentu tidak mudah, diperlukan kekreativitasan media agar pengguna 3G tertarik bergabung dalam komunitas. Salah satu bentuknya bisa dengan mempublikasikan kegiatan mereka, komunitasnya diprofilkan, hasil liputannya dimuat di media massa, dan tentu saja harus diberikan honor sebagai penyemangat. Melalui cara ini, kuantitas wartawan bisa dirasionalisasi dan SDM yang ada bisa dialihkan ke bidang lain seperti iklan, promosi atau periklanan. Inilah jurnalisme masa depan. Pembaca atau pemirsa akan senang dengan jurnalisme semacam itu karena beritanya akurat, objektif, dapat menjelaskan realitas apa adanya, dan tidak ada lagi berita bombastis, palsu ataupun kloning.
Secara bertahap, jurnalisme masa depan berbasis 3G ini sangat memungkinkan karena pertumbuhan pengguna layanan seluler di Indonesia sudah 24,5 persen atau 54 juta dari 220 juta penduduk di Indonesia. Menggembirakannya lagi, ada 500.000 ponsel yang beredar di masyarakat sudah berbasis 3G. Namun ini harus ditunjang dengan segera menyiapkan infrastruktur dan meluaskan wilayah jangkauan sertifikasi ULO tidak hanya di beberapa kota. Pekerjaan rumah para operator seluler yang memegang sertifikasi ULO memang masih banyak, namun bukan berarti tidak bisa diselesaikan.

*Terbit di Indo Pos

~ by ariyanto on 1 December 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: